Budaya Disiplin Positif

 1.4.a.8. Koneksi Antar Materi – Modul 1.4

Sebelum mempelajari modul ini, banyak yang belum saya ketahui mengenail filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, nilai-nilai guru penggerak, visi guru penggerak serta budaya positif yang perlu diterapkan dalam membentuk karakter peserta didik yang berazaskan pancasila.

Sumber gambar: https://www.google.com/search?q=gambar+pendidikan+karakter&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwj9tbix2_X6AhWY53MBHZ71DSIQ_AUoAXoECAEQAw&biw=1366&bih=657&dpr=1&safe=active&ssui=on#imgrc=cUXkRmmycvKPQM

Setelah mempelajari modul ini, saya meyakini bahwa untuk membentuk karakter peserta didik yang memiliki nilai-nilai pancasila tidak bisa dilakukan sendiri dan harus dilakukan secara berkolaborasi dan berkesinambungan. Pemikiran KHD tentang pendidikan merupakan dasar yang paling tepat dalam membentuk pondasi pembentukan karakter peserta didik yang sesuai dengan budaya luhur dan jati diri bangsa, sementara nilai-nilai guru penggerak hendaknya melekat pada setiap calon guru penggerak dan kemudian bisa ditularkan pada guru lain dalam wujud visi demi mengembangkan budaya positif peserta didik dan warga sekolah.

Dalam mewujudkan itu semua, saya mulai merumuskan visi misi yang kemudian saya berkolaborasi dengan kepala sekolah dan guru lainnya untuk mengembangkan budaya positif disekolah. Budaya positif merupakan suatu praktek baik yang sering dilakukan dan sudah menjadi kebiasaan dalam suatu lingkungan, disekolah kami di SLB Negeri Gunung Sahilan kami membudayakan tegur sapa dan salaman setiap pagi, hal ini kami lakukan dengan tujuan agar peserta didik di sekolah kami memiliki karakter kepribadian yang ramah, santun, berakhlak mulia serta saling menghormati.

Dikelas saya menerapkan disiplin positif dalam mengajar, dimana peserta didik yang kadang datang terlambat saya atasi dengan menerapakan prinsip segitiga restitusi. Pada saat ini saya mengajar di kelas XII Hambatan Penglihatan, namun diantara peserta didik saya tersebut ada yang mengalami hambatan ganda, dimana selain mengalami hambatan penglihatan juga mengalami hambatan intelektual. Dalam penerapan segitiga restitusi untuk peserta didik dengan hanya hambatan penglihatan tentu tidak ada masalah, karena mereka bisa berfikir secara normal, namun berbeda halnya dengan peserta didik dengan hambatan penglihatan dan intelektual (ganda) memang banyak terkendala dalam pelaksanaan langkah-langkah dalam penerapan segitiga restitusi itu sendiri, dimana kita hanya mengarahkan peserta didik untuk berfikir realistis dan menemukan sendiri solusi dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi, tentu peserta didik dengan hambatan ganda seperti ini butuh waktu dan cara yang berbeda dalam penerapan segitiga restitusi itu sendiri.

Dalam menghadapi peserta didik dengan hambatan ganda, saya sering melibatkan orang tua/ wali mereka dalam penerapan disiplin positif disekolah, dimana dengan cara berkolabarosi dengan orang tua peserta didik ini disiplin positif yang saya kembangkan dapat berjalan dengan baik dan berlanjut dilingkungan rumah, disekolah peserta didik hanya beraktifitas selama lebih kurang 8 jam, sementara 16 jam berikutnya mereka berada di rumah, dan tentunya kebiasaan negatif yang mungkin terjadi dilingkungan rumah bisa terbawa hingga ke sekolah, untuk itu dalam penanaman dan pembentukan karakter peserta didik dengan budaya disiplin positif ini perlu kerja sama antara guru dan orang tua peserta didik.

Kolaborasi antara guru dan orang tua peserta didik dalam pembentukan karakter kepribadian pancasila terhadap peserta didik tidak hanya saya lakukan terhadap peserta didik dengan hambatan ganda (hambatan intelektual) namun juga kepada peserta didik dengan hambatan penglihatan, namun intensitasnya tentu tidak sebanyak peserta didik dengan hambatan intelektual, peserta didik dengan hambatan penglihatan lebih mudah untuk diarahkan dan dibimbing menuju disiplin positif baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan rumah.

Pada akhirnya budaya positif inilah yang menjadi target dari pembentukan karakter kepribadian peserta didik yang berazaskan pancasila, sehingga kita benar-benar memiliki lingkungan yang aman, tenteram dan berbudaya namun tetap unggul dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi global.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran Dengan Konsep Pemikiran KHD

Pengembangan Diri dan Orang Lain